Saat Menulis Menjadi Sebuah Penyakit

By | December 11, 2013

Setiap saat saya melangkahkan kaki, atau bahkan duduk tanpa kerjaan. Aku selalu belajar membawa pen dan buku catatan. Dan ketika ada sesuatu yang menyelinap dalam pikiran saya, saya langsung menulisnya. Entah itu berbentuk sebuah kata, sebuah kalimat, satu pragrap atau bahkan menjadi beberapa bait puisi.

Yeah, begitulah. Karena saya menyadari bahwa otak saya masih belumlah cerdas dan seperti yang juga diajarkan oleh guru-guru saya bahwa untuk menjadi penulis hebat, maka haru selalu membawa pen dan buku catatan. Yeah, meski hasil tulisanku tidaklah bagus dan tidaklah sebanyak yang dihasilkan oleh para penulis hebat di luar sana, tapi mendinglah, seperti yang anda baca di berbagai tulisan di blog ini (promosi ne ye he he)

Dan karena keinginan tersebut, saya menjadi ketagihan untuk selalu membawa buku catatan dan pen kemanapun dan dimanapun dan setiap ada yang terlintas dalam pikiran saya langsung menjadikannya tulisan. Yeah, meskipun tulisan tersebut terkadang jellek buaaanget he he.

Hanya saja, kawan. Saat itu saya sedang santai bersama temen-temen. Tiba-tiba ad aide melintas yang perlu saya tulis. Langsung saja saya buka buku catatan kesayangan saya dan melai menulis satu dua hingga beberapa kalimat. Dan pada saat saya sedang asyik-asyiknya menulis, tiba-tiba salah satu temen saya nyeletuk, “Wah kumat lagi ne penyakitnya” saya tidak mengerti apa yang dimaksudkan temen saya barusan, meski saya sebenarnya tidak mau terganggu oleh suasana lain pada saat saya menulis. Tapi entahlah, celetukan temen saya barusan benar-benar membuat saya pengen bertanya, “Maksudnya?” Tanya saya, lalu meletakkan buku kesayangan saya, karena memang tulisan saya sudah selesai, “Iya, menulis kan memang penyakitmu” jawab temenku sembari melihat saya, itu menunjukkan kalau kata-kata itu ditujukan ke saya. Saya tertawa terbahak-bahak , meski dalam hati saya, saya sebenarnya tercenung akan perkataan temen saya itu.

“Menulis adalah sebuah penyakit” ini adalah sesuatu yang baru bagi saya. Meski dalam hati saya bertanya-tanya, “Benarkah menulis itu penyakit?” dan meskipun jika seandainya menulis itu memang benar-benar penyakit, saya ingin saya selalu terkena penyakit tersebut dan nggak sembuh-sembuh. Yeah saya ingin terkena penyakit menulis, agar setiap saat saya selalu menulis he he

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *